LEMBATA,MDTV-NEWS.Com – SLB Negeri Lewoleba mencatat langkah bersejarah dalam dunia pendidikan inklusif di Kabupaten Lembata. Untuk pertama kalinya, sekolah ini menyelenggarakan Ujian Sekolah (US) berbasis digital menggunakan perangkat Android dan laptop melalui aplikasi Google Forms, yang diikuti oleh seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SDLB, SMPLB hingga SMALB.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SLB Negeri Lewoleba, Paulus Geradus Hurint, S.T., Gr, mengatakan bahwa inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual bukanlah penghalang bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
“Ini adalah langkah berani sekaligus momentum penting untuk menunjukkan bahwa anak-anak istimewa mampu berkembang dan bersaing jika diberi kesempatan yang sama,” ujarnya.
Pelaksanaan ujian ini juga mendapat perhatian dari Koordinator Pengawas Dikmen dan Diksus Kabupaten Lembata, Yohanes Mamun, S.Pd., M.Pd, yang secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ujian sekolah bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan bukti dedikasi dalam mencerdaskan anak bangsa tanpa terkecuali.
Ia juga menekankan pentingnya integritas dan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi pendidikan, serta mengajak semua pihak untuk memandang ujian sebagai ajang perayaan kompetensi siswa, bukan sebagai beban.
Selama pelaksanaan ujian, para siswa terlihat antusias dan fokus menggunakan smartphone maupun laptop untuk mengerjakan soal. Aplikasi Google Forms dipilih karena dinilai ramah pengguna dan efektif sebagai media pembelajaran digital.
Meski demikian, pihak sekolah mengakui masih adanya tantangan, terutama terkait ketersediaan sarana dan prasarana pendukung. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan sangat diharapkan agar inovasi ini dapat terus berkembang.
Adapun jumlah peserta Ujian Sekolah tahun ini sebanyak 15 siswa, dengan rincian:SMALB:2siswa, SMPLB:7siswa, SDLB: 6 siswa. Dari jumlah tersebut, 9 siswa menggunakan laptop, 2 siswa menggunakan Android, dan 4 siswa masih menggunakan kertas pensil sebagai bentuk penyesuaian kebutuhan.
Pelaksanaan ujian berlangsung pada:SMALB: April 2026, SMPLB & SDLB: 6–9 Mei 2026
Keberhasilan ini menjadi harapan baru bagi masa depan pendidikan inklusif di Lembata. Pihak sekolah berharap langkah awal ini dapat menjadi pemantik perhatian dan dukungan lebih luas.
“Dengan fasilitas yang memadai, anak-anak ini bisa mandiri dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri,” tutup Paulus penuh harap.
Redaksi