Capt David Vigis: Kelalaian Wings Air Soal Kargo Jenazah Bukan Cukup Diselesaikan dengan Permintaan Maaf

photo author
- Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:43 WITA
Capt David Vigis: Kelalaian Wings Air Soal Kargo Jenazah Bukan Cukup Diselesaikan dengan Permintaan Maaf
Foto ilustrasi

LEWOLEBA, MDTV-NEWS.com - Terkait tertinggalnya kargo jenazah mahasiswa asal Lembata dari Jakarta tujuan Larantuka dengan transit bandara El tari Kupang menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan hal ini pun menjadi preseden buruk bagi manajemen maskapai wing air yang melayani rute penerbangan Kupang- Larantuka

Bagi banyak pihak ini adalah kelalaian pihak maskapai hingga kargo lanjutan berisi jenazah dari Jakarta ke Larantuka tidak diterbangkan.

Capt David Vigis salah satu anggota keluarga almarhum, kepada media ini mengaku kecewa dengan sistem pelayanan Wings air penerbangan Kupang- Larantuka

Menurut Capt Vigis, kelalaian ini merupakan, kesalahan mutlak maskapai yang mengurus kargo, karena bokingan tiket penumpang sebagai pengawal bersama kargo menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam kargo manifest yang didapat keluarga dan maskapai itu sama, mesti menjadi P1 jadi alasan yang kami terima bahwa kabin kargo kecil dan lain-lain mesti menjadi pertimbangan maskapai. Misalnya ada pengiriman lain yang bisa ditunda sehingga kargo penerbangan awal dari Jakarta bisa untuk satu kali jalan pengiriman.

Bagi kami ungkap Capt David, kargo bisa ditunda kecuali tidak ada penerbangan atau ada ganguan cuaca dan atas kondisi ini mestinya pihak maskapai bertanggung jawab bukan hanya sekedar minta maaf tegas Vigis.

Masih menurut Vigis, terkait kematian orang timur melekat dengan urusan tradisi adat dan budaya, nah dengan kelalaian maskapai wing air seperti ini konsekwensi biaya harus juga menjadi tanggungjawab maskapai.

Sebutlah misalnya karena batal diterbangkan, kargo jenasah ini disemayamkan di mana, terus ambulance yang sudah on untuk penjemputan, kapal yang disewakan untuk penyebrangan harus dipertimbangkan maskapai karena ini kelalaian. Maskapai jangan seolah-olah lepas tangan ketus Vigis

Maskapai tidak bisa tinggal diam dan seolah masa bodoh tidak bisa seperti itu. Keluarga berhak komplain itu. Ini kelalaian maskapai yang tidak memperhatikan kargo manifest nya.

Tidak bisa kemudian hanya sampaikan besok baru diterbangkan sangat tidak etis tegas capt Vigis

Sementara Ano Petugas kargo Lion air, Wings air dan batik saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan telp seluler (4/8/2026) menjelaskan bahwa pihaknya teratur by sistem.

"Kami teratur by sistem dan kargo ini tiba dengan lion jam 8 lewat tidak ada konekting dengan penerbangan lanjutan" ungkap Ano.

Lebih jauh ia mengatakan, untuk penebangan lanjutan tanggal, 3 Agustus 2026 konekting kita dengan batik air yang tiba di Kupang jam 6 pagi untuk lanjutan ke Larantuka. Sementara dengan lion tidak konek.

Ditanya mengapa pendamping bisa terbang lanjut sementara kargo tidak? Petugas mengatakan sesuai jadwal kargo diterbangkan tanggal 4 Agustus 2026.

Media ini pun bertanya manifest tiketing penumpang dan kargo merupakan satu kesatuan kenapa, penumpang bisa terbang lalu kargo tidak? Mengapa juga saat di bandara ketika ditanyakan ke petugas tidak dijelaskan?

Ano mengatakan, kami konek dengan batik pagi dari jakarta-kupang-larantuka tiba jam 6 pagi sementara kargo jenazah tiba jam 8 dengan lion jadi tidak ada konekting sehingga kargo jenazah baru bisa diterbangkan tanggal 4 Agustus.

"Kita miskomunikasi sehingga terjadi seperti ini" ungkap Ano diujung pembicaraan dengan awak media.

Untuk diketahui Peristiwa memilukan ini terjadi dan menimpa keluarga besar Blasius Avelino Kebingin (25), mahasiswa asal Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jenazah Blasius yang diberangkatkan dari Jakarta menuju kampung halamannya, tertinggal di Bandara El Tari Kupang saat transit menuju Bandara Gewayantana, Larantuka, Flores Timur, Senin (03/08/2026).

Kejadian ini membuat keluarga korban terpukul. Saat pesawat yang ditumpangi dua pengantar jenazah mendarat di Larantuka, jenazah Blasius ternyata tidak ikut diterbangkan.

Blasius merupakan mahasiswa asal Desa Watokobu, Kecamatan Nubatukan, Lembata, yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Ia meninggal dunia pada Sabtu (01/08/2026) di rumah kosnya akibat sakit.

Jenazah sempat dibawa ke RSUD Pasar Rebo sebelum dipulangkan ke kampung halaman. Jenazah diberangkatkan menggunakan penerbangan Lion Air dengan transit di Bandara El Tari Kupang.

Dalam perjalanan itu, jenazah didampingi adik kandung korban, Sandro Kebingin, dan sepupunya, Jansen Kebingin. Setibanya di Kupang, keduanya melapor kepada petugas mengenai keberadaan jenazah yang akan melanjutkan penerbangan ke Larantuka menggunakan Wings Air.

Menurut Jansen, petugas darat menyampaikan bahwa proses pemindahan jenazah ke pesawat lanjutan akan ditangani pihak maskapai. Mereka pun diarahkan langsung menuju ruang tunggu keberangkatan.

Kami sudah melapor kalau membawa jenazah. Petugas bilang nanti jenazah mereka yang urus untuk dipindahkan ke pesawat tujuan Larantuka, jadi kami diminta langsung ke ruang tunggu,” ujar Jansen.

Lanjut Jansen sejak transit di Surabaya hingga Kupang, ia sempat memastikan proses pengiriman jenazah. Namun, setiap kali bertanya ke petugas, jawabannya sama: pemindahan kargo dilakukan otomatis sehingga tidak perlu mendatangi bagian kargo.

“Tiap bandara yang kami transit, kami mau ke cargo untuk cek. Mereka bilang tidak bisa karena itu sudah otomatis tinggal dipindahkan.

Waktu transit di Surabaya saya tanya, di Kupang saya tanya lagi, jawabannya sama, jadi saya tidak usah ke cargo,” katanya.

Saat tiba di Bandara Gewayantana Larantuka, Sandro dan Jansen terkejut karena jenazah Blasius tidak berada dalam pesawat yang mereka tumpangi.

“Kami benar-benar kaget. Kami langsung mau ambil jenazah, ternyata tidak ada. Terus terang sakit sekali, karena saya benar-benar menjaga adik saya sejak dari Jakarta. Kenapa bisa begini, sementara mereka juga mengakui ada kesalahan,” tutur Jansen.

Penantian Tanpa Kepastian Akibat kejadian tersebut, keluarga yang telah berkumpul di Larantuka untuk menyambut kedatangan jenazah harus menunggu tanpa kepastian. Bahkan, sejumlah anggota keluarga dari Lewoleba sudah menyeberang menggunakan kapal cepat menuju Larantuka sejak siang. Peristiwa ini menambah duka mendalam bagi keluarga besar Blasius.

Mereka berharap pihak maskapai segera memberikan penjelasan dan memastikan jenazah dapat dipulangkan dengan layak ke kampung halaman.


Redaksi 


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

info Silakan tulis komentar dengan bahasa yang santun. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin.
X