LEMBATA, MDTV-NEWS.com — Dua hari menjelang peringatan HUT ke-27 Kabupaten Lembata, Pemerintah Kabupaten Lembata menancap di ladang.
Sabtu, 10 Oktober 2026, di lahan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Loang, Kecamatan Nagawutung, Bupati Petrus Kanisius Tuaq bersama Kaban Kesbangpol, Kanis Making, dan Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ade Hasan Yusuf dan jajaran penyuluh pertanian menanam perdana 1.000 anakan tomat varietas Servo F1, yang akan menyusul menjadi 10.000 pohon.
Bukan sekadar simbol perayaan ulang tahun, langkah ini adalah bagian dari strategi nyata menjaga pasokan, menekan inflasi, dan membangun kemandirian pangan daerah.
Komoditas tomat kerap menjadi barometer tekanan harga di pasar Lembata, terutama menjelang akhir tahun ketika pasokan dari daerah lain menurun. Saat kebutuhan masyarakat terus meningkat, ketergantungan pada pasokan dari luar membuat harga mudah melonjak. Di sinilah letak urgensi penanaman ini: memastikan saat pasokan luar turun pada Desember nanti, tomat lokal sudah siap panen masuk pasar.
Bupati P. Kanisius Tuaq menegaskan, fokus pemerintah tidak berhenti pada tomat. "Selain tomat, kita juga konsen ke bawang dan wortel. Karena kemarin kita dengar, dapur MBG masih membeli wortel dari luar Kabupaten Lembata," ujarnya, sebuah pengakuan bahwa celah ketergantungan masih ada, dan harus segera ditutup.
Bagi Bupati, mengurangi ketergantungan bukan sekadar soal angka produksi, melainkan soal kedaulatan harga di pasar sendiri.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Lembata, Ade Hasan Yusuf, menyebut kehadiran Bupati langsung di ladang sebagai sinyal kuat bahwa pertanian adalah sektor utama.
"Kebutuhan tomat meningkat terus, konsumsi masyarakat bertambah. Tomat sudah menjadi komoditas yang menentukan kestabilan harga kita," katanya.
Ia memproyeksikan, Desember 2026 adalah masa panen sekaligus momen masuknya tomat Lembata ke pasar tepat saat pasokan dari luar menurun.
Lebih dari sekadar produksi, Ade Hasan menekankan dimensi edukasi. Potensi lahan di Lembata masih luas, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Penanaman ini juga ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa bekerja di sektor pertanian adalah jalan nyata meningkatkan ekonomi keluarga.
"Kita tidak sekadar menanam, kita mengajak masyarakat melihat masa depan dari ladang mereka sendiri," ujarnya.
Ini bukan program tunggal. Tomat adalah mata rantai terbaru, setelah bawang dan cabai yang sudah digarap sebelumnya. Pemerintah juga menyiapkan lahan-lahan masyarakat secara berjejer, bukan secara proyek sesaat. Tujuannya jelas: agar ketika harga bergejolak di daerah lain, Lembata punya cadangan sendiri.
Menjelang hari jadi ke-27, Lembata tak merayakan dengan pesta semata. Ia menanam harapan. Sebuah kado yang tumbuh perlahan di tanah, berbuah di pasar, dan dirasakan di meja makan warga, harga yang stabil, pasokan yang terjaga, dan petani yang dihargai. (ProkompimPemkabLembata)