LEMBATA, MDTV-NEWS.com — Sejarah perjuangan rakyat Lembata menyimpan pesan yang tetap relevan bagi pembangunan hari ini: perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk menghadapi persoalan bersama. Pesan itulah yang kembali ditegaskan melalui ritual Tutung Padu atau Seru Padu di Rumah Situs 7 Maret 1954, Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kamis (8/10/2026).
Di tengah rangkaian menyongsong Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Lembata yang akan dirayakan pada 12 Oktober 2026, peringatan tersebut bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana semangat persatuan para leluhur harus diterjemahkan ke dalam tanggung jawab pemerintahan, kehidupan sosial, dan pembangunan yang berpihak pada masyarakat.
Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati H. Muhamad Nasir, Kepala Kejaksaan Negeri Lembata, Sekretaris Daerah Paskalis Ola Tapo Bali, serta Perwakilan TNI/Polri, mengikuti rangkaian Napak Tilas dan renungan suci di situs bersejarah tersebut.
Prosesi Tutung Padu atau Seru Padu diawali di gerbang rumah situs, dan dilanjutkan dengan melakukan ritual menyalahkan obor oleh Bupati Lembata kepada perwakilan Hamente, Kakan dan kerajaan Lebala sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat Lembata yang akan terus bernyalah. Acara ini dipandu oleh budayawan Lembata, Linus Beseng.
Ritual itu menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang perjuangan masyarakat Lomblen yang, menurut penjelasan Linus, sejarah perjuangan masyarakat Lomblen kalah itu melibatkan enam hamente.
Keenam unsur tersebut adalah Hamente Lewotolok, Hamente Kalikur, Hamente Kawela, Kakang Hadakewa, Kakan Lamalera, dan Lebala. Mereka dipersatukan oleh tekad untuk memperjuangkan kehidupan masyarakat Lomblen agar terbebas dari penindasan dan kemiskinan.
Dari sejarah itu, ada pertanyaan yang layak dibawa ke masa kini: jika para leluhur mampu menyatukan perbedaan demi kepentingan bersama, bagaimana generasi sekarang menjaga persatuan ketika menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembangunan tidak hanya membutuhkan anggaran, program, dan infrastruktur. Pembangunan juga memerlukan kepercayaan, solidaritas, serta kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.
Semangat persatuan yang ditunjukkan para leluhur tidak boleh berhenti sebagai cerita yang diulang setiap peringatan hari bersejarah. Nilainya perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara masyarakat menyikapi perbedaan, cara pemerintah mendengar aspirasi warga, hingga cara seluruh pihak mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan daerah.
Dalam konteks itulah, ritual Tutung Padu memperoleh makna reflektif bagi penyelenggaraan pemerintahan. Linus Beseng menjelaskan bahwa tradisi tersebut mengandung tiga pesan utama: bersyukur atas kebaikan dan perlindungan yang diterima selama setahun, memohon maaf atas kesalahan dalam tutur kata maupun tindakan, serta memohon kesehatan dan kekuatan agar para pemimpin dapat terus melayani masyarakat dengan baik.
Ketiga pesan itu menyentuh dimensi moral kepemimpinan. Rasa syukur mengajarkan kerendahan hati; permohonan maaf mengingatkan pentingnya mengakui kekurangan; sedangkan harapan untuk tahun berikutnya menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat merupakan tanggung jawab yang harus terus diperbaiki.
Bagi pemerintah daerah, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pengingat bahwa jabatan bukan sekadar kewenangan, melainkan amanah. Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui capaian administratif, tetapi juga melalui manfaat yang dirasakan masyarakat, kualitas pelayanan publik, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan rakyat.
Harapan masyarakat yang disampaikan melalui ritual itu pun sangat mendasar: rakyat dapat hidup sehat, kebutuhan hidup terpenuhi, anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, dan setiap keluarga dapat menjalani kehidupan dengan tenang di kampung halamannya.
Dengan demikian, penghormatan terhadap leluhur menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam kerja nyata untuk memperbaiki kehidupan generasi sekarang dan generasi mendatang.
Taan Tou: Persatuan sebagai Kekuatan Pembangunan
Pesan persatuan tersebut sejalan dengan semangat Taan Tou, yang menempatkan kebersamaan sebagai kekuatan untuk menjaga dan membangun Lewotana. Persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan pandangan, melainkan membangun kesediaan untuk berdialog, saling menghormati, dan bekerja bersama demi kepentingan masyarakat Lembata.
Semangat ini perlu hidup dalam hubungan antara pemerintah dan masyarakat, antar kelompok sosial, serta di antara seluruh elemen yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan daerah. Kritik dan perbedaan pendapat tetap menjadi bagian dari kehidupan demokratis, tetapi harus diarahkan untuk memperbaiki keadaan, bukan memperlebar perpecahan.
Dalam pembangunan, Taan Tou juga mengandung pesan bahwa kemajuan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dunia usaha, kaum muda, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran masing-masing. Ketika seluruh unsur bergerak dalam semangat yang sama, tantangan daerah dapat dihadapi dengan kekuatan yang lebih besar.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula penanaman pohon di depan Rumah Situs 7 Maret 1954. Penanaman tersebut dimaknai sebagai simbol keteduhan dan kesejukan. Pesannya sederhana: warisan sejarah harus dirawat, sebagaimana lingkungan dan kehidupan masyarakat perlu dijaga agar tetap lestari.
Peringatan ini dihadiri pula Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lembata Ursula Surat Bayo, bersama staf ahli TP PKK, Nurmila Nasir, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Lembata Maria Anastasia Bara Baje, Staf Ahli Bupati, para asisten, pimpinan perangkat daerah, aparatur sipil negara, serta tokoh masyarakat, para Camat dan Kepala Desa Hadakewa.
Pada akhirnya, Situs 7 Maret 1954 bukan hanya tempat untuk menoleh ke masa lalu. Situs ini mengingatkan bahwa persatuan pernah menjadi kekuatan penting dalam perjuangan masyarakat Lomblen. Tantangan generasi sekarang adalah menjaga nilai tersebut agar tidak berhenti sebagai warisan simbolis.
Taan Tou harus menjadi sikap hidup: bersatu dalam perbedaan, bergotong royong menghadapi kesulitan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Sebab, Lembata tidak akan dibangun oleh satu orang atau satu kelompok saja, melainkan oleh seluruh masyarakat yang bersedia berjalan bersama demi Lewotana.
Semangat itulah yang patut dibawa dari Situs 7 Maret menuju masa depan Lembata: merawat sejarah, memperkuat persaudaraan, dan menjadikan persatuan sebagai fondasi pembangunan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan. (Prokompimkablembata)