Diangkat dari Kisah Nyata Brigjen Pol Sumy Hastry, Film \"AUTOPSY: Dead Body Can Talk\" Siap Tayang September
Diangkat dari Kisah Nyata Brigjen Pol Sumy Hastry, Film \"AUTOPSY: Dead Body Can Talk\" Siap Tayang September

By Admin MDTV 15 Jul 2026, 19:06:16 WIB,   Dibaca: 2 Kali Daerah
Diangkat dari Kisah Nyata Brigjen Pol Sumy Hastry, Film \"AUTOPSY: Dead Body Can Talk\" Siap Tayang September

Keterangan Gambar : Diangkat dari Kisah Nyata Brigjen Pol Sumy Hastry, Film "AUTOPSY: Dead Body Can Talk" Siap Tayang September




Jakarta, - Industri perfilman Indonesia siap menyuguhkan tontonan baru lewat genre forensic psychological thriller bertajuk AUTOPSY: Dead Body Can Talk. Diproduksi oleh PT RINS Prime Entertainment yang bekerja sama dengan PT Karya Kreatif Utama, film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 3 September 2026.

Baca Lainnya :




Kisah dalam film ini terinspirasi langsung dari perjalanan hidup nyata Brigjen. Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F., yang merupakan ahli forensik wanita pertama di Asia Tenggara. Sebagai bentuk perkenalan, pihak produksi telah merilis poster perdana serta cuplikan trailer berdurasi 2 menit 25 detik yang menampilkan atmosfer dingin dan penuh teka-teki dari dalam ruang autopsi. 




Aktris Masayu Anastasia didapuk sebagai bintang utama untuk memerankan sosok Dr. Sumy Hastry. Selain Masayu, film yang disutradarai oleh Ozan Ruz ini juga diperankan oleh deretan aktor ternama seperti Samuel Rizal, Ge Pamungkas, Rifnu Wakana, hingga Ryuka Bunga.




"Ide awal film ini berangkat dari sebuah pemikiran sederhana bahwa kisah yang diangkat dari peristiwa nyata akan memiliki kedekatan emosional. Dari pemikiran tersebut, nama dr. Sumy Hastry Purwanti muncul sebagai sosok yang paling tepat," ujar Rina Tarigan, selaku penulis cerita dalam konferensi pers di Metropole, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).




Menyoroti Sisi Psikologis dan Realitas Medis




Berbeda dengan film misteri pada umumnya yang kerap dibumbui unsur gaib, film ini menjanjikan pengalaman berbeda karena menitikberatkan pada kekuatan realitas medis dan aspek psikologis manusia. Melalui visual yang intim dan atmosfer yang menekan, penonton akan diajak melihat bagaimana sebuah jasad bertransformasi menjadi "saksi kunci" untuk membongkar kejahatan. Setiap goresan, lebam, hingga zat asing di dalam tubuh jenazah dianalisis secara medis sebagai petunjuk utama penyelidikan.




"Empati menjadi kekuatan utamanya, bukan sesuatu yang supranatural," tegas sang sutradara, Ozan Ruz.




Bagi Brigjen. Pol Dr. Sumy Hastry sendiri, film ini merekam memori masa lalu mengenai alasan awal dirinya memilih spesialisasi forensik sebuah langkah yang sempat dianggap tidak lazim bagi seorang polisi wanita (polwan) pada masanya.




“Waktu itu belum ada dokter polisi wanita yang menjadi dokter forensik. Saya dianggap cewek aneh,” kenang Brigjen Pol. Hastry sambil tersenyum. “Tapi itu semua yang nanti diceritakan di film, perjalanan awal saya masuk dunia forensik sampai akhirnya belajar terus hingga S3.”




Melalui film ini, Brigjen Pol. Hastry berharap masyarakat bisa mendapatkan edukasi yang lebih luas mengenai vitalnya peran kedokteran forensik dalam mendukung keadilan hukum.




“Harapan saya, film ini untuk edukasi. Masyarakat bisa tahu bahwa tugas polisi itu seperti ini; mengungkap kasus secara ilmiah, memburu pelaku, dan tidak pernah berhenti bekerja,” pungkasnya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Kanan - Iklan SidebarKanan ucapanKanan Ucapan HPN David VigisKanan ucapan HPN ketua PKNKanan HPN KesbangKanan HPN Bapenda

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.