- Kecelakaan lalulintas di lembata,mobil pick up terbalik,pemotor terpental keluar badan jalan
- Desa Cantik 2026 Diluncurkan: IPM Meningkat, Kemiskinan Masih Tinggi, Bupati Lembata Tekankan Pentingnya Data Akurat
- Halal Bihalal BKMT–Kemenag Bersama Umat Lembata Ditutup Wabup Nasir, Tekankan Peran Ibu dan Harmoni
- Komunitas Sound System Lembata Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2029
- Bupati Lembata Promosikan Hidden Gem Pariwisata di Festival Lamaholot, Data Kunjungan Jadi Sorotan
- Hadiri Festival Lamaholot, Bupati Lembata Tegaskan Dukungan Pemerintah terhadap Eksistensi Budaya dan Transformasi Ekonomi
- Merajut Kasih di Wailolong: Saat Idulfitri dan Paskah Menyatukan Hati
- Dari Panggung Seni ke Kehidupan Masyarakat, Frater Ritapiret Belajar Nilai Sosial dan Spiritualitas
- Uji coba Pembukaan Ramp Door Kapal Fery KMP Inerie II Tidak Dapat Dilakukan di Pelabuhan Laut Lewoleba
- Enam Bulan Perjuangan Pemda Lembata, ASDP Gagal Yakinkan Kapten: Kapal Terapung Tanpa Tindakan
Bupati Lembata Dukung Penuh Aksi Demo Masyarakat Desak Percepatan Layanan Ferry

LEWOLEBA, MDTV-NEWS.COM — Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, S.P., bersama Wakil Bupati Lembata H. Muhamad Nasir, S.Sos., didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, A.P., M.T., menerima massa aksi damai yang tergabung dalam Aliansi Ekspedisi Lembata (AXEL) dan Forum Parlemen Jalanan Lembata (FORMALEN) di halaman Kantor Bupati Lembata.
Aksi tersebut bertujuan mendesak pemerintah daerah agar segera merealisasikan pelayanan pelabuhan ferry di Kabupaten Lembata. Massa memulai titik kumpul di Taman Kota Lewoleba, kemudian bergerak melalui Jalan Anton Enga Tifaona dan Jalan Trans Lembata sebelum tiba di Kantor Bupati.
Aksi damai ini dilatarbelakangi oleh terhentinya pelayanan bongkar muat kendaraan roda empat atau lebih sejak rusaknya Pelabuhan Ferry Waijarang pada November 2025. Kondisi tersebut dinilai berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, khususnya pelaku usaha dan jasa ekspedisi.
Baca Lainnya :
- Sidang Pelayanan Terpadu di Atu’walupang, Permudah Akses Legalitas Pernikahan dan Dokumen Kependudukan0
- Tragis,seorang pemuda di Lembata ditemukan tergantung tak bernyawa di pohon gamal,diduga bunuh diri0
- Antisipasi Resiko,Basarnas Maumere Turunkan Personel Terbaiknya untuk Pengamanan SEMANA SANTA di Larantuka0
- Pemkab Lembata dan BPJS Ketenagakerjaan Teken Kerja Sama Perlindungan Pekerja Rentan0
- Bupati Lembata Hadiri Rakor: Belanja Pegawai NTT Capai 54 Persen, ASN Tak Boleh Dirumahkan Tapi Anggaran Menipis0
Koordinator Umum aksi, Ciprianus Pito Lerek, menyampaikan bahwa vakumnya layanan bongkar muat telah menghambat mobilisasi barang dan jasa serta memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Selain itu, para pelaku usaha mengalami penurunan pendapatan akibat terganggunya distribusi logistik.
“Pelabuhan ferry merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Lembata. Kami mendesak pemerintah segera menghadirkan solusi konkret,” tegasnya.
Dalam tuntutannya, massa meminta pemerintah menyediakan pelabuhan alternatif atau darurat guna melayani bongkar muat kendaraan roda empat dan lebih. Massa juga menginginkan adanya dialog langsung dengan Bupati untuk mencapai kesepakatan terkait penggunaan pelabuhan alternatif.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir menyatakan dukungan penuh terhadap aksi damai yang dilaksanakan, sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat, khususnya para pelaku usaha jasa ekspedisi.
Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus berupaya secara maksimal untuk mencari serta menghadirkan solusi terbaik bagi kepentingan masyarakat.
Pemerintah daerah, lanjut Bupati, telah melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan provinsi, pelaku usaha ekspedisi, serta pimpinan ASDP di tingkat pusat maupun daerah. Namun demikian, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, baik dari sisi birokrasi maupun kondisi fiskal daerah.
Selain itu, Bupati juga mengungkapkan adanya kendala teknis operasional terkait rencana sandar kapal feri. Salah satu faktor utama adalah kekhawatiran nakhoda kapal terhadap risiko kerusakan dermaga yang dapat berimplikasi pada sanksi terhadap awak kapal. Pemerintah daerah, kata dia, terus mendorong dilakukannya uji coba sandar sebagai langkah awal pemulihan layanan.
Bupati menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat untuk menyulitkan siapa pun. Niat kita adalah membantu masyarakat dan memajukan daerah. Oleh karena itu, apa yang kita lakukan saat ini semata-mata disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki.”
Sebagai tindak lanjut, Bupati mengundang perwakilan massa aksi untuk berdialog di ruang kerja guna membahas solusi teknis secara bersama-sama.
Dari hasil dialog tersebut, disepakati beberapa langkah strategis, di antaranya:
1. Uji coba sandar kapal feri di Dermaga Pelabuhan Ferry Waijarang dijadwalkan pada Kamis, 9 April 2026.
2. Apabila uji coba pertama tidak berhasil, akan dilakukan uji coba alternatif di Pelabuhan Laut Lewoleba dengan tetap berkoordinasi bersama dengan pihak Sabandar.
3. Jika kedua uji coba mengalami kendala, pemerintah daerah akan mengkaji serta mempertimbangkan pembangunan kembali fasilitas pelengsengan di lokasi Harnus guna mendukung kelancaran sandar kapal feri.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Aksi damai ini mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan roda perekonomian daerah, sekaligus harapan agar pelayanan transportasi laut di Kabupaten Lembata dapat segera kembali normal. (ProkompimPemKabLembata)
















