- Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot
- Karnaval Budaya Meriahkan Pembukaan Festival Internasional Lamaholot 2026 di Lewoleba
- 14 Tahun Mengarungi Badai dan Bahagia, Kisah Inspiratif Keluarga Paulus Geradus Hurint dalam Membangun Rumah Tangga
- Di Tengah Tantangan Lembata, Bupati Kanisius Tuaq: Jangan Sampai Kita Mengalami Krisis Iman
- Pulang Membawa Cahaya Tanah Suci, Tiga Jamaah Haji Lembata Disambut Penuh Syukur dan Haru
- Bupati Lembata Sambut Kepulangan Jamaah Haji Lembata, Wujud Syukur atas Perjalanan Ibadah yang Penuh Berkah
- Bupati Lembata Turun Tangan Bangun Fondasi TK St. Mikhael Baobolak, Ikut Angkut Batu Bersama Warga
- 80 Tahun Mengabdi, Polri berkomitmen terus menghadirkan pelayanan terbaik Untuk Masyarakat
- Siswa SMKN 1 Maumere Borong 3 Emas di Shoto-Kai Open Tournament Karate Piala Gubernur NTT 2026
- Membaca Ulang Jalan Revolusi: Demokrasi Harus Kembali Pada Tujuan Bernegara
Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot

LEWOLEBA,MDTV-NEWS.com – Salah satu daya tarik utama yang menyita perhatian pengunjung pada acara pembukaan Festival Lamaholot Tahun 2026 di Pantai Wisata Wulen Luo, Lewoleba, Rabu (1/7/2026), adalah kehadiran Sarung Adat khas Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur yang dipasarkan dengan harga mencapai Rp25 juta per helai.
Nilai tinggi dari kain tenun ini bukan semata-mata karena harganya, melainkan karena proses pembuatan yang sangat panjang, memakan waktu hingga kurang lebih tiga tahun, serta melibatkan ketelitian dan kesabaran luar biasa dari para pengrajin.
Kain sarung adat tersebut merupakan karya dari Kelompok Penenun Peten Ina Desa Lamagute. Menurut Ketua Kelompok, Agnes K. Witak, proses pembuatannya dilakukan secara tradisional mulai dari nol, yakni dari menanam kapas sebagai bahan baku utama.
Baca Lainnya :
- Karnaval Budaya Meriahkan Pembukaan Festival Internasional Lamaholot 2026 di Lewoleba0
- 14 Tahun Mengarungi Badai dan Bahagia, Kisah Inspiratif Keluarga Paulus Geradus Hurint dalam Membangun Rumah Tangga0
- Di Tengah Tantangan Lembata, Bupati Kanisius Tuaq: Jangan Sampai Kita Mengalami Krisis Iman0
- Pulang Membawa Cahaya Tanah Suci, Tiga Jamaah Haji Lembata Disambut Penuh Syukur dan Haru0
- Bupati Lembata Sambut Kepulangan Jamaah Haji Lembata, Wujud Syukur atas Perjalanan Ibadah yang Penuh Berkah0
"Prosesnya sangat panjang. Dimulai dari menanam kapas, memanen, lalu melakukan Balo Kape atau memisahkan kapas dari bijinya secara manual. Kemudian kapas tersebut diolah kembali atau dibuhu agar halus, lalu dipintal menjadi benang melalui proses Tue Lelu," jelas Agnes.
Keunikan lainnya terletak pada teknik pewarnaan alami yang memakan waktu bertahun-tahun. Untuk mendapatkan warna hitam pekat, benang direndam menggunakan ekstrak tanaman Taum dicampur kapur sirih selama kurang lebih tiga tahun. Sedangkan untuk mendapatkan warna coklat matang, benang direndam menggunakan akar pohon Mengkudu yang dicampur dengan tanaman Kokal yang didatangkan khusus dari Kabupaten Alor, dengan proses perendaman yang juga memakan waktu sekitar tiga tahun.
"Dulu tanaman Kokal dari Alor kita tukar dengan jagung, sekarang satu ikat kecil harganya Rp50.000. Proses yang lama inilah yang membuat warna menjadi sangat kuat, stabil, dan bernilai tinggi," tambahnya.
Karena kerumitan dan lamanya proses tersebut, dalam satu tahun kelompok ini hanya mampu menghasilkan satu hingga dua helai kain tenun asli. Harganya pun bervariasi, sekitar Rp8 juta untuk motif hitam dan mencapai Rp25 juta untuk motif coklat.
Secara fungsi, kain ini memiliki makna sakral dan sangat penting dalam tata cara adat masyarakat Ile Ape.
"Sarung ini wajib ada dalam setiap upacara adat dan pernikahan. Jika laki-laki memberikan gading, maka pihak perempuan membalas dengan sarung ini. Ada perbedaan juga, untuk pria disebut Snawel (polos), sedangkan untuk wanita disebut Wate (bermotif)," terang Agnes.
Saat ini, di Desa Lamagute hanya tersisa lima kelompok yang masih konsisten menenun kain adat asli. Meskipun mendapatkan dukungan stimulan dari Dana Desa, mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terkait pemasaran agar produk luar biasa ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menembus pasar yang lebih luas hingga ke luar daerah.
Pada Festival Lamaholot 2026 yang berlangsung selama empat hari ini, pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan keindahan kain tenun, tetapi juga berbagai atraksi budaya lainnya seperti Pano Mowak (persiapan motif), Titi Jagung, hingga kerajinan unik dari tulang ikan paus dan kerang mutiara, yang semuanya memperkaya khazanah budaya Lamaholot. (Prokompimkablembata)















