- Lansia Hebat, Lembata Kuat: Wakil Bupati Lembata Buka Peringatan Hari Lansia Nasional
- Bupati Lembata Lepas 21 Calon Mahasiswa ke Semarang, Program Kuliah Sambil Bekerja Jadi Peluang Emas Generasi Muda
- Dorong Pembangunan Rumah Dinas Tenaga Kesehatan di Desa Bean,Wabup Nasir Tinjau langsung Lokasi
- Sambut Milad ke-60, KAHMI Makassar Gelar Baksos dan Tabligh Akbar di Pangkep
- Idul Adha di Waowala, Bupati Kanis Tekankan Solidaritas, Wabup Nasir Angkat Rehumanisasi Kehidupan
- Bupati Lembata Pimpin Evaluasi Program Strategis Daerah, Tekankan Kolaborasi dan Hilirisasi
- Bupati Lembata Dukung Penuh Ekspansi Jagung Industri LKARI
- Lembata Fishing Tournament 2026: Tuna 30 Kilogram Antar Emmanuel Toni Rebut Piala Bupati dan Uang Rp.75 juta
- Di Balik Harlah Fatayat NU: Data LKP3A Bicara, Kekerasan Perempuan-Anak di Lembata Menguak Fakta Pahit
- Berdaya dan Mendunia: Fatayat NU Lembata Launching Rumah Produksi & RA Qurrata A’yun
Merajut Kasih di Wailolong: Saat Idulfitri dan Paskah Menyatukan Hati

LEMBATA, MDTV-NEWS.COM - Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa kuat di Lapangan Kawang Moleng, Desa Wailolong, Kecamatan Omesuri, Jumat (10/4/2026). Malam itu, warga dari berbagai latar belakang agama berkumpul dalam satu momen yang langka namun sarat makna: Silaturahmi Paskah dan Halal Bihalal.
Di bawah langit Lembata yang tenang, tawa, sapa, dan pelukan menjadi bahasa yang paling jujur. Tak ada sekat. Semua larut dalam semangat persaudaraan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara remaja masjid, Orang Muda Katolik (OMK), pemerintah desa, serta tokoh agama dan masyarakat. Ketua panitia, Martinus Mamuq, menjelaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial, tetapi ruang untuk saling memaafkan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kembali nilai kebersamaan pasca perayaan Idulfitri dan Paskah.
Baca Lainnya :
- Dari Panggung Seni ke Kehidupan Masyarakat, Frater Ritapiret Belajar Nilai Sosial dan Spiritualitas0
- Uji coba Pembukaan Ramp Door Kapal Fery KMP Inerie II Tidak Dapat Dilakukan di Pelabuhan Laut Lewoleba 0
- Enam Bulan Perjuangan Pemda Lembata, ASDP Gagal Yakinkan Kapten: Kapal Terapung Tanpa Tindakan0
- Pemkab Lembata Perkuat Komitmen Turunkan Pengangguran, Raih Apresiasi Tim Kemendagri dalam Validasi IGA0
- Halalbihalal KEMALA: Wabup Nasir Gaungkan Persatuan sebagai Energi Kolektif Pembangunan0
“Malam ini bukan hanya tentang perayaan, tapi tentang hati yang dipersatukan,” ujarnya.
Selain doa bersama dan ceramah rohani, kegiatan juga diisi dengan malam amal. Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk pembangunan rumah ibadat, termasuk masjid—sebuah simbol nyata bahwa gotong royong lintas iman masih hidup dan tumbuh di Wailolong.
Pesan menyentuh datang dari Pastor Paroki St. Fransiskus Balauring, Pater Maksimus Labut Rao. Dalam siraman rohaninya, ia mengajak seluruh hadirin untuk melihat sesama sebagai wajah Tuhan.
“Kalau kita melihat sesama dengan kasih, kita sedang melihat Tuhan hadir di dalam diri mereka. Maka perlakukanlah satu sama lain dengan hormat dan cinta,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kontribusi nyata bagi daerah. Bukan tentang apa yang didapat, tetapi apa yang bisa diberikan untuk kemajuan Lembata.
Sementara itu, Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, yang hadir mewakili pemerintah daerah, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya nilai kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.
Ia mengangkat makna halal bihalal sebagai tradisi khas Indonesia yang mampu menyatukan agama dan budaya. Menurutnya, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan jika disatukan oleh nilai-nilai bersama.
“Seperti dalam matematika, pecahan yang berbeda hanya bisa dijumlahkan jika penyebutnya sama. Dalam kehidupan berbangsa, penyebut itu adalah Pancasila,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan pesan IdulFitri dan Paskah sebagai simbol transformasi—dari keterbatasan menuju kemajuan, dari lama menuju pembaruan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan semangat kebersamaan ini sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih baik.
Malam itu, Wailolong bukan hanya menjadi tempat pertemuan, tetapi juga ruang harapan. Harapan bahwa perbedaan akan selalu menemukan jalannya untuk bersatu, dan bahwa dari desa kecil ini, nilai besar tentang persaudaraan bisa terus tumbuh dan menginspirasi.
Di tengah gemuruh dunia yang sering kali terpecah, Wailolong memberi pelajaran sederhana: bahwa kasih dan kebersamaan selalu punya cara untuk menang.
(ProkompimPemKabLembata)
















