- Pemkab Lembata dan BPJS Ketenagakerjaan Teken Kerja Sama Perlindungan Pekerja Rentan
- Bupati Lembata Hadiri Rakor: Belanja Pegawai NTT Capai 54 Persen, ASN Tak Boleh Dirumahkan Tapi Anggaran Menipis
- Dua Ranperda Strategis Disepakati, Pemda dan DPRD Lembata Perkuat Perlindungan Anak dan Tenaga Kerja
- Wabup Lembata Hadiri Apel Pasukan Semana Santa Turangga 2026, Pastikan Kesiapan Pengamanan Paskah
- Bupati Lembata Hadiri Perayaan Minggu Palma di Idalolong, Serukan Toleransi dan Pembangunan Berbasis Rakyat
- DPRD dan Pemkab Lembata Sepakati Perubahan Struktur OPD, Jumlah Perangkat Daerah Dikurangi
- Menjelang Akhir Triwulan I, Kepatuhan ASN Lembata pada SPT dan LHKPN Masih Rendah
- RAT KDMP Pada Bahas Evaluasi Kinerja dan Penguatan Tata Kelola Koperasi
- Menjelang Akhir Triwulan I, Kepatuhan ASN Lembata pada SPT dan LHKPN Masih Rendah
- Pemkab Lembata dan ASDP Gelar Pertemuan dengan Pengguna Jasa, Bahas Solusi Layanan Penyeberangan
Di Balik Laptop Uzur dan Meja Salon Speaker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026
Di balik laptop uzur, meja salon speaker, dan kursi plastik, para jurnalis ini menegaskan satu hal: kerja jurnalistik tak ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh komitmen, solidaritas, dan keberpihakan pada publik.

LEWOLEBA, MDTV-NEWS.COM - Di sebuah rumah tua di Duang, Kotabaru, Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, denyut kerja jurnalistik terasa hidup.
Bukan dari fasilitas mewah atau ruangan berpendingin udara, melainkan dari bunyi tuts laptop yang dipencet tanpa henti, cangkir kopi yang terus diisi ulang, dan diskusi yang mengalir tanpa jeda.
Di sudut ruangan, Ben Assan tampak serius menatap layar laptop Toshiba hitam miliknya. Laptop itu terlihat uzur—layarnya sudah miring, nyaris terlepas dari engsel, sehingga harus disangga agar tetap nyaman digunakan. Namun dari perangkat sederhana itulah, wartawan Kabar Rakyat Terkini sekaligus aktivis lingkungan ini menyiapkan materi yang akan ia bawakan pada puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, yang dijadwalkan berlangsung 9 Februari mendatang.
Baca Lainnya :
- PT. Tirta Teknosys Jajaki Pembangunan Pabrik AMDK di Kabupaten Lembata, Lima Lokasi Di Survei0
- Sekda Lembata Tekankan Penguatan Pelaporan SPM Terpadu Melalui Koordinasi Teknis OPD0
- Serap Aspirasi Pendidikan di Ujung Barat Lembata, DPRD NTT Kunjungi SMAN 1 Nagawutung0
- Pemkab Lembata Serahkan Penghargaan bagi 24 ASN Purna Bhakti, Bupati: Pengabdian Tak Berhenti Saat Pensiun0
- Bupati Lembata Tegaskan Disiplin dan Evaluasi Kinerja ASN pada Apel Kesadaran Perdana 20260
Tak jauh dari Ben, Sandro Wangak sibuk dengan laptop Apple miliknya. Jemarinya lincah menyusun Term of Reference (TOR) yang akan dibagikan kepada para narasumber dalam rangkaian kegiatan HPN 2026. Di sela-sela itu, ia juga menata daftar undangan peserta. Sebagai Sekretaris Forum Jurnalis Lembata (FJL), urusan surat-menyurat, konsep kegiatan, hingga administrasi memang sudah menjadi “menu harian” Sandro.
Laptop yang lebih modern itu menjadi alat bantu utama dalam mengurai berbagai urusan organisasi.
Kontras antara laptop tua dan perangkat yang lebih mutakhir tak menjadi soal.
Di sekretariat FJL, semua berpadu dalam satu tujuan: menyukseskan HPN 2026 di Lembata, dengan segala keterbatasan yang ada.
Di ruangan yang sama, hadir pula Hiero Bokilia selaku Bendahara FJL, Cele Kedang Ketua Panitia HPN 2026, serta Aziz, Ivan, dan Anton. Usai bergerak menemui sejumlah relasi yang berpotensi mendukung kegiatan pers tersebut, mereka berkumpul kembali di sekretariat.
Secangkir kopi menjadi teman diskusi, pelepas lelah, sekaligus pengikat kebersamaan.
Rabu (21/1/2026), aktivitas para jurnalis ini tak hanya sebatas menghadiri konferensi pers.
Di tengah padatnya agenda liputan, mereka tetap meluangkan waktu mempersiapkan rangkaian kegiatan HPN dengan kondisi apa adanya. Prinsipnya sederhana: memanfaatkan apa yang tersedia, tanpa mengurangi kualitas gagasan dan semangat.
Sekretariat FJL sendiri menempati rumah tua milik Stenly Leweheq, wartawan Indonesia Surya. Wartawan bertubuh gempal ini dengan lapang dada mengikhlaskan rumah peninggalan almarhum ayahnya untuk digunakan sebagai sekretariat Forum Jurnalis Lembata.
Rumah itu kini menjadi saksi lahirnya ide, diskusi kritis, dan kerja-kerja sunyi para jurnalis Lembata.
Fasilitas di sekretariat ini jauh dari kata mewah. Tak ada meja kantor atau lemari arsip modern. Sebuah salon—yang biasanya digunakan untuk menyimpan pakaian—disusun di tengah ruangan dan difungsikan sebagai meja kerja bersama. Meja darurat itu dilengkapi kursi plastik, juga pemberian Stenly, yang setia menopang para jurnalis saat rapat hingga larut. Namun justru dari kesederhanaan itulah, semangat pers Lembata menemukan maknanya.
Di balik laptop uzur, meja salon speaker, dan kursi plastik, para jurnalis ini menegaskan satu hal: kerja jurnalistik tak ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh komitmen, solidaritas, dan keberpihakan pada publik.
HPN 2026 bukan sekadar perayaan, tetapi cermin perjuangan pers daerah yang tetap tegak, meski berdiri di atas keterbatasan. *).
















